Loading...
Adil Itu Lebih Dekat kepada Takwa
04/05/2026 Admin Yayasan Bagikan:



Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy 


Allah Swt berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

(QS. al-Mā’idah: 8)


Ayat ini tidak sekadar memerintahkan keadilan dalam arti umum. Ia turun untuk menguji kejujuran iman: apakah seseorang tetap adil ketika berhadapan dengan orang yang ia benci?


Dalam penjelasan Ibnu Jarir al-Tabari, manusia—baik ia teman dekat maupun musuh—harus diperlakukan dengan standar yang sama: hukum Allah Swt, bukan hawa nafsu. Jangan sampai kebencian menggeser timbangan. Jangan sampai permusuhan mengubah prinsip.


Di sinilah letak ujian itu.


Sebab adil kepada kawan itu mudah.

Yang sulit —dan di situlah nilai iman diuji—adalah adil kepada lawan.


Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa firman Allah Swt, “اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ” (berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa), bermakna: keadilan adalah jalan paling dekat menuju maqām takwa. Siapa yang adil, berarti ia sedang taat kepada Allah Swt. Dan siapa yang taat, ia termasuk أهل التقوى—orang-orang yang hidup dalam kesadaran akan Allah Swt.

Sebaliknya, kezaliman bukan sekadar pelanggaran sosial, tetapi tanda kerenggangan hubungan dengan Allah Swt. Orang yang zalim berarti sedang bermaksiat. Dan maksiat itu menjauhkan dari takwa.


Maka, ukuran takwa dalam ayat ini bukan banyaknya ibadah lahiriah semata, tetapi keteguhan menjaga keadilan, bahkan ketika hati sedang dipenuhi kebencian.


Sampean bisa bayangkan:

berapa banyak konflik hari ini —politik, sosial, bahkan keagamaan— yang berakar dari hilangnya prinsip ini?

Orang membela yang ia sukai, walaupun salah.

Dan menjatuhkan yang ia benci, walaupun benar.

Padahal Al-Qur’an sudah memberi garis tegas:

jangan biarkan kebencian membuatmu tidak adil.


Ayat ini seperti menampar kesadaran kita:

bahwa keadilan bukan pilihan situasional, tetapi perintah yang berdiri di atas semua perasaan.

Dan lebih dalam lagi, ayat ini mengajarkan bahwa takwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah Swt, tetapi disiplin moral yang nyata dalam sikap—terutama ketika emosi sedang memuncak.

Karena itu, di akhir ayat Allah Swt mengingatkan:

“Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Seakan-akan Allah Swt menutup ayat ini dengan satu pesan halus:

sampean boleh saja menyembunyikan bias, membungkus ketidakadilan dengan alasan, atau memoles kebencian dengan dalih kebenaran—

tapi Allah Swt tahu.


Dan pada akhirnya, keadilan bukan hanya urusan manusia dengan manusia.

Ia adalah urusan manusia dengan Tuhannya. 

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 


Gresik,  3 Mei 2026