Loading...
BAHASA ASING: ANTARA GENGSI DIPLOMASI DAN KEBUTUHAN BANGSA
30/05/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Jangan sampai kurikulum bahasa kita berubah-ubah mengikuti arah pesawat kepresidenan

Oleh  : Ahmad Chuvav Ibriy 


Sebagai umat Islam yang hidup di Indonesia, sesungguhnya kita memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak bangsa lain. Sejak kecil, jutaan anak Indonesia sudah dikenalkan dengan Bahasa Arab melalui Al-Qur'an, doa, ibadah, dan tradisi keagamaan. Di saat yang sama, kita juga didorong menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi global.

Jika dua bahasa ini benar-benar dikuasai dengan baik, sesungguhnya pintu dunia sudah terbuka lebar.


Bahasa Arab membuka akses kepada khazanah keilmuan Islam yang sangat luas, mulai dari tafsir, hadis, fikih, filsafat, hingga sejarah peradaban. Bahasa Inggris membuka akses kepada sains modern, teknologi, ekonomi, riset, dan percakapan global. Keduanya merupakan bahasa yang memiliki nilai strategis tinggi bagi masa depan bangsa.


Karena itu, setiap kali muncul gagasan untuk memasukkan bahasa asing baru ke dalam kurikulum nasional, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah: "Bahasa ini berasal dari negara sahabat yang baru dikunjungi atau tidak?" Melainkan: "Apakah bahasa ini benar-benar dibutuhkan oleh mayoritas rakyat Indonesia?".


Dalam dunia bisnis dan perdagangan internasional hari ini, misalnya, banyak pihak akan menilai Bahasa Mandarin memiliki nilai ekonomi yang lebih besar dibanding Bahasa Prancis. Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia dan pusat manufaktur dunia. Jika orientasinya adalah kebutuhan ekonomi, investasi, dan perdagangan, maka pertimbangannya tentu berbeda dengan sekadar hubungan diplomatik.


Masalahnya bukan karena Bahasa Prancis, Portugis, atau bahasa lainnya tidak penting. Semua bahasa adalah jendela peradaban yang patut dihargai. Namun negara memiliki sumber daya pendidikan yang terbatas. Waktu belajar siswa terbatas. Anggaran pendidikan juga terbatas. Karena itu prioritas harus ditentukan berdasarkan kebutuhan strategis bangsa, bukan berdasarkan tren diplomasi yang berubah setiap kali terjadi kunjungan kenegaraan.

Jangan sampai kurikulum bahasa kita berubah-ubah mengikuti arah pesawat kepresidenan. Hari ini Prancis, besok Portugis, lusa bahasa negara lain yang baru saja dikunjungi. Pendidikan nasional tidak boleh berjalan mengikuti agenda seremonial lima tahunan, tetapi harus disusun berdasarkan visi jangka panjang puluhan tahun ke depan.


Indonesia membutuhkan generasi yang benar-benar menguasai bahasa, bukan generasi yang diperkenalkan kepada terlalu banyak bahasa tetapi tidak menguasai satupun secara mendalam. Lebih baik menguasai beberapa bahasa yang strategis dengan baik daripada mengenal banyak bahasa hanya di permukaan.


Mungkin saatnya kita bertanya kembali: apakah persoalan utama pendidikan Indonesia hari ini adalah kurangnya pilihan bahasa asing? Ataukah justru rendahnya literasi, lemahnya kemampuan membaca, kemampuan matematika yang tertinggal, serta penguasaan Bahasa Inggris yang masih jauh dari memadai?


Sebelum menambah bahasa baru, bukankah lebih bijak memastikan terlebih dahulu bahwa anak-anak Indonesia benar-benar kuat dalam bahasa yang paling mereka butuhkan untuk menatap masa depan?


Gresik, 30 Mei 2026


https://www.facebook.com/share/p/1cm5wSzVa3/