Loading...
Bullying yang Dibiarkan Adalah Bom Waktu di Sekolah
28/05/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh  : Ahmad Chuvav Ibriy 

Kasus penusukan antar siswa SMP di Bandar Lampung yang terjadi pada Senin siang, 25 Mei 2026, bermula dari praktik perundungan yang disebut telah berlangsung cukup lama. Ejekan, penghinaan terhadap orang tua, hingga kekerasan fisik diduga terus dialami pelaku sampai akhirnya ia membawa sebilah pisau dapur ke sekolah dengan alasan untuk berjaga-jaga. Ketika kembali terjadi perkelahian dan pelaku disebut dipiting hingga kesulitan bernapas, situasi pun berubah tragis. Dalam kondisi panik dan emosi memuncak, ia menusukkan senjata tersebut kepada temannya sendiri.

Peristiwa ini bukan sekadar berita kriminal biasa, melainkan alarm keras bagi dunia pendidikan dan para orang tua bahwa sekolah hari ini sedang menghadapi krisis yang tidak boleh dianggap sepele. Banyak tragedi berdarah di usia remaja ternyata bukan lahir dari kebencian yang tiba-tiba, melainkan dari luka panjang yang dibiarkan menumpuk tanpa penyelesaian.

Bullying sering dianggap “cuma bercanda”, “namanya juga anak-anak”, atau “biar mentalnya kuat”. Padahal ejekan yang terus-menerus, penghinaan terhadap keluarga, pemukulan, hingga tekanan psikis adalah bentuk kekerasan yang perlahan menghancurkan jiwa anak. Tidak semua korban mampu bercerita. Banyak yang memilih diam, memendam takut, malu, dan marah dalam waktu yang lama. Ketika ruang perlindungan tidak lagi mereka rasakan, sebagian anak akhirnya mengambil jalan yang keliru.

Inilah yang harus menjadi renungan bersama. Jangan sampai sekolah hanya sibuk mengejar nilai akademik, tetapi gagal menjaga keamanan batin peserta didiknya. Sebab anak yang tertekan secara psikologis bisa kehilangan kemampuan berpikir jernih. Ketika rasa takut bercampur dengan kemarahan dan putus asa, keputusan yang lahir sering kali bersifat impulsif dan berbahaya.

Para pendidik harus lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa. Anak yang murung, mudah marah, menarik diri, atau sering menjadi bahan olokan tidak boleh diabaikan. Guru BK, wali kelas, kepala sekolah, bahkan teman sebaya harus menjadi sistem perlindungan yang aktif, bukan sekadar penonton setelah tragedi terjadi.

Demikian pula para orang tua. Jangan hanya bertanya nilai rapor, tetapi tanyakan juga keadaan hati anak-anak kita. Apakah mereka merasa aman di sekolah? Apakah mereka sedang dibully? Apakah mereka punya teman untuk bercerita? Kedekatan emosional antara orang tua dan anak sering menjadi benteng pertama untuk mencegah ledakan emosi yang terlambat disadari.

Kita tentu tidak membenarkan tindakan kekerasan dengan senjata tajam. Namun kita juga harus jujur bahwa bullying yang terus dibiarkan adalah bentuk kekerasan yang sama berbahayanya. Luka fisik mungkin terlihat, tetapi luka batin sering tersembunyi sampai akhirnya meledak menjadi tragedi.

Sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar ilmu, adab, dan rasa aman; bukan arena intimidasi yang membuat siswa datang dengan rasa takut. Jika bullying dianggap biasa, maka sesungguhnya kita sedang memelihara bom waktu di lingkungan pendidikan kita sendiri.

Wallāhu al-Musta'ān 

Gresik, 28 Mei 2026