Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Dulu, ketika anaknya belum mampu berjalan, mungkin seorang ayah rela menggendongnya ke mana-mana. Ketika anaknya menangis, ia berusaha menenangkan. Ketika anaknya sakit, hatinya gelisah. Ia bekerja, berjuang, dan mengorbankan banyak hal agar anaknya tumbuh dengan baik. Tidak semua pengorbanan itu tercatat, apalagi terbayar.
Namun, waktu berjalan. Anak yang dahulu digendong itu kini telah dewasa. Sementara sang ayah semakin renta, langkahnya tak lagi sekuat dahulu, dan tubuhnya mulai membutuhkan perhatian. Ironisnya, pada saat itulah sebagian orang tua justru merasa kehilangan tempat di tengah keluarganya sendiri.
Kisah Pak Suharyono, lansia berusia 78 tahun asal Desa Tenaru, Driyorejo, Gresik, menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam. Berdasarkan pemberitaan yang beredar, ia kini tinggal di Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, setelah diserahkan oleh anak kandung dan menantunya untuk mendapatkan perawatan.
Ada satu bagian kisah yang terasa begitu getir. Dalam proses penyerahan itu, keluarga disebut telah memahami konsekuensi bahwa mereka tidak akan menerima kabar apabila Pak Suharyono meninggal dunia kelak.
Bayangkan, seorang ayah yang masih mampu berjalan dan berkomunikasi, yang mengaku telah berulang kali meminta maaf kepada anaknya meskipun tidak memahami kesalahannya, kini harus menjalani hari tua jauh dari keluarganya.
Ketika ditanya tentang keadaannya, ia menjawab dengan kalimat sederhana, "Alhamdulillah, tidak apa-apa. Saya serahkan semuanya kepada Allah."
Kalimat itu terdengar tenang. Namun, kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa dalam luka yang disimpan seseorang di balik ketenangannya.
Jangan-jangan, yang paling menyakitkan bagi seorang ayah bukanlah kehilangan tempat tinggal, melainkan merasa tidak lagi diinginkan oleh anak yang dahulu dibesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Tentu, kita tidak mengetahui seluruh persoalan yang terjadi di dalam keluarga Pak Suharyono. Konflik keluarga bisa memiliki latar belakang yang rumit. Karena itu, kita tidak patut menjatuhkan vonis hanya berdasarkan satu kisah atau potongan rekaman. Namun, peristiwa ini layak menjadi bahan renungan bersama: bagaimana seharusnya seorang anak memperlakukan orang tuanya ketika usia mereka semakin senja?
Bakti Bukan Sekadar Kata
Islam menempatkan kewajiban berbakti kepada orang tua pada kedudukan yang sangat tinggi. Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua." (QS. Al-Isra': 23).
Perhatikan susunan ayat tersebut. Setelah perintah beribadah hanya kepada Allah, disusul perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Ini menunjukkan betapa pentingnya kedudukan orang tua dalam kehidupan seorang anak.
Allah bahkan melarang seorang anak mengucapkan kata "ah" kepada orang tuanya. Bukan hanya melarang penghinaan, melainkan juga mengajarkan kesantunan ketika berbicara kepada mereka.
Lalu, bagaimana jika orang tua telah lanjut usia, membutuhkan perhatian, dan tidak lagi produktif secara ekonomi?
Apakah kasih sayang harus berhenti ketika orang tua tidak lagi menghasilkan uang? Apakah bakti menjadi tidak relevan ketika merawat mereka mulai menguras waktu, tenaga, dan biaya?
Tentu tidak demikian.
Berbakti memang tidak selalu mudah. Ada kalanya hubungan orang tua dan anak menyimpan persoalan panjang. Ada pula keadaan ketika perawatan membutuhkan bantuan tenaga profesional. Menitipkan orang tua di tempat perawatan yang layak tidak dengan sendirinya berarti durhaka. Bahkan, dalam kondisi tertentu, langkah itu bisa menjadi pilihan yang bertanggung jawab.
Tetapi ada perbedaan mendasar antara mencari bantuan perawatan demi kebaikan orang tua dan menyingkirkan mereka karena dianggap sebagai beban.
Yang perlu dipertanyakan bukan semata-mata di mana orang tua tinggal, melainkan apakah martabat, kasih sayang, dan tanggung jawab terhadap mereka masih dijaga.
Jangan Sampai Anak Lupa Sejarahnya Sendiri
Ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang ibu mampu merawat sepuluh anak, tetapi sepuluh anak belum tentu mampu merawat seorang ibu. Pepatah ini bukan rumus yang berlaku bagi semua keluarga. Namun, ia menyentil kenyataan bahwa kasih sayang orang tua sering kali jauh lebih besar daripada perhatian yang kembali mereka terima.
Anak terkadang lupa bahwa sebelum memiliki rumah sendiri, ia pernah menjadi penghuni rumah orang tuanya. Sebelum mampu membeli makanan sendiri, ia pernah disuapi. Sebelum pandai berbicara, ia pernah dituntun mengucapkan kata demi kata.
Ketika sakit, ia dirawat. Ketika gagal, ia dihibur. Ketika berbuat salah, ia berkali-kali diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Mengapa ketika keadaan berbalik, orang tua justru tidak selalu mendapatkan kesempatan yang sama?
Kita tidak sedang menuntut setiap anak harus tinggal serumah dengan orang tuanya sampai akhir hayat. Kehidupan setiap keluarga berbeda. Ada keterbatasan ekonomi, pekerjaan, jarak, bahkan konflik yang membutuhkan penyelesaian secara bijaksana.
Namun, keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghapus tanggung jawab moral. Jika tidak mampu merawat sendiri, masih ada jalan untuk berbagi tanggung jawab dengan saudara, mencari bantuan sosial, atau menyediakan perawatan yang layak. Komunikasi dan perhatian tetap dapat diberikan selama keadaan memungkinkan.
Jangan sampai orang tua merasa bahwa satu-satunya jalan untuk memperoleh ketenangan pada masa tuanya adalah menyerahkan seluruh nasib kepada orang lain.
Kelak, Kita Juga Akan Tua
Kisah Pak Suharyono bukan sekadar cerita tentang seorang lansia yang tinggal di panti. Ia adalah cermin bagi masyarakat yang sedang bergerak menuju kehidupan modern, ketika kesibukan, tuntutan ekonomi, dan perubahan pola keluarga terkadang membuat hubungan antargenerasi semakin renggang.
Kita mudah berbicara tentang kemajuan, pendidikan, dan kesuksesan anak. Kita bangga ketika anak berhasil meraih jabatan, memiliki rumah, atau hidup berkecukupan. Namun, keberhasilan itu patut dipertanyakan maknanya apabila orang tua yang dahulu mengantarkannya menuju kehidupan tersebut justru merasa tidak mempunyai tempat dalam hidupnya.
Bukankah salah satu ukuran keberhasilan pendidikan adalah tumbuhnya akhlak dan tanggung jawab?
Bukankah kecerdasan kehilangan sebagian maknanya ketika tidak disertai kepedulian terhadap sesama, terutama kepada orang yang telah berjasa membesarkan kita?
Kita tidak tahu bagaimana akhir kisah keluarga Pak Suharyono. Kita juga tidak berhak memastikan bagaimana hubungan mereka kelak. Yang dapat kita lakukan adalah berharap agar semua pihak menemukan jalan terbaik, dan Pak Suharyono mendapatkan perawatan serta ketenangan yang layak.
Kepada anak-anak yang orang tuanya masih hidup, barangkali inilah saat yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memberikan perhatian yang cukup kepada mereka? Masihkah kita menyempatkan diri menelepon, mengunjungi, mendengarkan keluh kesah, atau sekadar duduk menemani mereka?
Jangan menunggu kursi orang tua kosong untuk menyadari betapa berharganya kehadiran mereka.
Sebab, ketika ayah yang dahulu menggendong kita akhirnya tak lagi mampu berdiri tegak, yang ia butuhkan mungkin bukan rumah mewah atau harta berlimpah. Bisa jadi, ia hanya ingin merasa bahwa dirinya masih dicintai dan tidak dianggap sebagai beban.
Dulu, ia menggendong kita dengan kedua tangannya. Kini, ketika tangannya mulai gemetar dimakan usia, jangan biarkan ia menanggung kesedihan sendirian.
Jangan sampai kita menjadi anak yang berhasil membangun masa depan, tetapi gagal menjaga kehormatan orang tua yang telah mengantarkan kita ke sana.
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM