لولا المربى لما عرفت ربى، ولولا العلماء لما عرفت الأنبياء
“Seandainya bukan karena pendidik, aku takkan mengenal Tuhanku. Dan seandainya bukan karena para ulama, aku takkan mengenal para nabi.”
Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Tanggal 2 Mei, yang kita kenal sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), bukan sekadar momentum seremonial dengan upacara dan pidato formal. Ia sejatinya adalah hari perenungan: sejauh mana pendidikan telah menjadi jalan manusia mengenal dirinya, Tuhannya, dan arah hidupnya. Ungkapan hikmah di atas menjadi pintu masuk yang dalam—bahwa pendidikan bukan hanya transmisi ilmu, tetapi juga pewarisan makna.
Dalam tradisi Islam klasik, sosok murabbī (pendidik) tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi membentuk jiwa. Ia bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan penuntun perjalanan batin. Karena itu, hubungan antara murid dan guru bukan relasi administratif, melainkan relasi ruhani. Dari sanalah lahir kesadaran bahwa mengenal Allah bukan hasil dari hafalan semata, tetapi buah dari bimbingan dan keteladanan.
Namun, realitas pendidikan modern seringkali mengalami reduksi. Sekolah menjadi pabrik nilai, guru menjadi operator kurikulum, dan murid menjadi angka statistik. Orientasi pendidikan bergeser dari pembentukan manusia menjadi produksi tenaga kerja. Di sinilah Hardiknas perlu kita maknai ulang —bukan sebagai perayaan, tetapi sebagai kritik.
Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah sistem pendidikan kita masih memberi ruang bagi lahirnya murabbī? Ataukah justru membebani guru dengan administrasi yang menumpuk hingga kehilangan ruh mendidik? Apakah peserta didik masih diarahkan untuk mengenal makna hidup, atau hanya dilatih untuk bersaing di pasar kerja?
Peran ulama dalam ungkapan di atas juga penting digarisbawahi. Ulama bukan sekadar pewaris ilmu, tetapi penjaga sanad makna. Mereka menghubungkan generasi hari ini dengan cahaya kenabian. Dalam konteks pendidikan nasional, ini berarti bahwa tradisi keilmuan yang berakar pada nilai-nilai spiritual tidak boleh tercerabut oleh arus sekularisasi yang kering.
Hardiknas seharusnya menjadi titik temu antara pendidikan formal dan kearifan tradisional. Antara kurikulum negara dan hikmah para ulama. Kita tidak menolak modernitas, tetapi menuntut agar ia tidak menghilangkan dimensi ruhani manusia.
Di tengah krisis moral, degradasi etika, dan kegamangan identitas generasi muda, pendidikan yang hanya berorientasi pada kecerdasan kognitif jelas tidak cukup. Kita membutuhkan pendidikan yang melahirkan manusia yang utuh: cerdas akalnya, halus hatinya, dan lurus jalannya.
Akhirnya, Hardiknas adalah panggilan untuk mengembalikan marwah pendidikan. Bahwa guru bukan sekadar profesi, tetapi amanah. Bahwa belajar bukan sekadar kewajiban, tetapi jalan menuju ma‘rifat. Dan bahwa bangsa yang besar bukan hanya yang maju teknologinya, tetapi yang dalam jiwanya.
Maka, jika hari ini kita memperingati Hardiknas, mari kita mulai dari kesadaran sederhana: menghormati guru, menghidupkan tradisi ilmu, dan menjadikan pendidikan sebagai jalan pulang, bukan sekadar jalan karier.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb
Gresik, 2 Mei 2026