Loading...
Jodoh: Ketika Takdir Tuhan Memilihkan Jalan yang Tak Pernah Kita Duga
27/06/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy

 

Dalam perjalanan hidup, mungkin tidak ada misteri yang lebih menarik daripada urusan jodoh. Banyak orang berusaha menghitungnya dengan logika, merencanakannya dengan matang, bahkan mengejarnya dengan penuh kesungguhan. Namun pada akhirnya, jodoh tetap menjadi wilayah takdir yang sepenuhnya berada dalam kuasa Allah SWT.

Kita sering menyaksikan kisah-kisah yang mengajarkan bahwa rencana manusia tidak selalu berakhir sesuai harapan. Ada pasangan yang sudah saling mengenal sejak SMA. Mereka berpacaran empat tahun, bahkan ada yang tujuh tahun. Keluarga sudah saling mengenal, cita-cita sudah disusun bersama. Namun, menjelang pernikahan justru berpisah dan akhirnya masing-masing menikah dengan orang lain.

Sebaliknya, ada pula kisah yang hampir mustahil dibayangkan. Dua orang sama-sama mengantar orang tua atau saudaranya ke rumah sakit. Mereka berkenalan di ruang tunggu, berbincang sekadarnya, merasa cocok, lalu dalam hitungan hari keluarga bertemu. Seminggu kemudian lamaran, tak lama setelah itu akad nikah. Kini mereka hidup rukun, saling menguatkan hingga puluhan tahun.

Di lingkungan pesantren, kisah semacam ini bahkan Lebih unik lagi. Ada dua santri yang tidak pernah berkenalan, tidak pernah berbicara, bahkan mungkin belum pernah saling melihat dengan saksama. Lalu sang kiai memanggil keduanya dan berkata, "Kalian saya jodohkan." Tidak banyak perdebatan. Mereka menjawab dengan penuh adab, sami'na wa atha'na—kami dengar dan kami taat. Anehnya, rumah tangga yang dibangun di atas kepercayaan kepada guru dan kepasrahan kepada Allah justru banyak yang langgeng, tenteram, dan penuh keberkahan.

Semua itu mengajarkan satu hal: manusia boleh berikhtiar, tetapi Allah  SWT yang menentukan.

Karena itu, setelah akad nikah terucap, sesungguhnya pencarian telah selesai. Yang tersisa bukan lagi mempertanyakan, "Benarkah dia jodohku?" Melainkan bagaimana menjadikan pasangan yang telah Allah tetapkan sebagai teman terbaik menuju surga.

Tidak ada suami yang sempurna. Tidak ada istri yang tanpa kekurangan. Yang ada hanyalah dua manusia biasa yang sama-sama belajar mengalahkan ego, saling memaafkan, saling memahami, dan bertumbuh bersama.

Rumah tangga tidak akan bertahan hanya karena cinta. Ia bertahan karena kesabaran, rasa syukur, komunikasi yang baik, saling menghormati, dan keyakinan bahwa setiap ujian adalah bagian dari proses pendewasaan.

Kadang kita melihat rumah tangga orang lain tampak begitu indah. Padahal bisa jadi mereka juga pernah melewati air mata yang tidak pernah dipertontonkan kepada siapa pun. Kebahagiaan bukanlah rumah tangga yang tanpa masalah, melainkan rumah tangga yang mampu menyelesaikan masalah tanpa kehilangan rasa cinta dan hormat satu sama lain.

 

Maka, jika hari ini Allah SWT telah mempertemukan kita dengan pasangan hidup, jangan terlalu sibuk membandingkan dengan kisah orang lain. Jangan terus membayangkan "seandainya dulu menikah dengan si A atau si B." Pikiran seperti itu hanya akan menggerogoti rasa syukur.

Terimalah kehidupan ini dengan lapang dada. Syukurilah pasangan yang Allah titipkan kepada kita. Rawatlah dengan kasih sayang, kesabaran, dan doa. Sebab sering kali, kebahagiaan bukan lahir karena kita mendapatkan pasangan yang sempurna, melainkan karena kita belajar mencintai dengan cara yang benar.

Baytî Jannatî—rumah tanggaku adalah surgaku. Ungkapan ini bukan berarti rumah tangga selalu dipenuhi tawa tanpa air mata, atau selalu lapang tanpa persoalan. Surga bukanlah tempat yang bebas dari perjuangan, melainkan tempat yang menghadirkan ketenangan. Rumah akan terasa seperti surga ketika suami dan istri saling menjaga kehormatan, saling menguatkan saat lemah, saling memaafkan ketika khilaf, dan sama-sama mengingat Allah SWT  dalam setiap langkah kehidupan. Kebahagiaan rumah tangga bukan ditentukan oleh seberapa mewah rumah yang dimiliki, tetapi oleh seberapa besar cinta, syukur, dan kesabaran yang hidup di dalamnya. Ketika setiap anggota keluarga menjadikan ridha Allah SWT ebagai tujuan bersama, maka rumah yang sederhana pun akan menghadirkan ketenteraman yang nilainya jauh melebihi kemewahan dunia.

Pada akhirnya, jodoh adalah rahasia Allah SWT, tetapi menjaga jodoh adalah amanah kita. Jika syukur menjadi pakaian dan sabar menjadi pegangan, insya Allah rumah tangga akan tetap kokoh menghadapi segala musim kehidupan. Karena yang membuat sebuah pernikahan bertahan bukan sekadar bagaimana ia dimulai, melainkan bagaimana dua hati terus memilih untuk saling setia hingga akhir usia.

Wallāhu al-Musta’ān

 

Ahmad Chuvav Ibriy

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM