Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Dalam perjalanan hidup, mungkin tidak ada misteri yang lebih
menarik daripada urusan jodoh. Banyak orang berusaha menghitungnya dengan
logika, merencanakannya dengan matang, bahkan mengejarnya dengan penuh
kesungguhan. Namun pada akhirnya, jodoh tetap menjadi wilayah takdir yang
sepenuhnya berada dalam kuasa Allah SWT.
Kita sering menyaksikan kisah-kisah yang mengajarkan bahwa
rencana manusia tidak selalu berakhir sesuai harapan. Ada pasangan yang sudah
saling mengenal sejak SMA. Mereka berpacaran empat tahun, bahkan ada yang tujuh
tahun. Keluarga sudah saling mengenal, cita-cita sudah disusun bersama. Namun,
menjelang pernikahan justru berpisah dan akhirnya masing-masing menikah dengan
orang lain.
Sebaliknya, ada pula kisah yang hampir mustahil dibayangkan.
Dua orang sama-sama mengantar orang tua atau saudaranya ke rumah sakit. Mereka
berkenalan di ruang tunggu, berbincang sekadarnya, merasa cocok, lalu dalam
hitungan hari keluarga bertemu. Seminggu kemudian lamaran, tak lama setelah itu
akad nikah. Kini mereka hidup rukun, saling menguatkan hingga puluhan tahun.
Di lingkungan pesantren, kisah semacam ini bahkan Lebih unik
lagi. Ada dua santri yang tidak pernah berkenalan, tidak pernah berbicara,
bahkan mungkin belum pernah saling melihat dengan saksama. Lalu sang kiai
memanggil keduanya dan berkata, "Kalian saya jodohkan." Tidak banyak
perdebatan. Mereka menjawab dengan penuh adab, sami'na wa atha'na—kami
dengar dan kami taat. Anehnya, rumah tangga yang dibangun di atas kepercayaan
kepada guru dan kepasrahan kepada Allah justru banyak yang langgeng, tenteram,
dan penuh keberkahan.
Semua itu mengajarkan satu hal: manusia boleh berikhtiar,
tetapi Allah SWT yang menentukan.
Karena itu, setelah akad nikah terucap, sesungguhnya
pencarian telah selesai. Yang tersisa bukan lagi mempertanyakan, "Benarkah
dia jodohku?" Melainkan bagaimana menjadikan pasangan yang telah Allah
tetapkan sebagai teman terbaik menuju surga.
Tidak ada suami yang sempurna. Tidak ada istri yang tanpa
kekurangan. Yang ada hanyalah dua manusia biasa yang sama-sama belajar
mengalahkan ego, saling memaafkan, saling memahami, dan bertumbuh bersama.
Rumah tangga tidak akan bertahan hanya karena cinta.
Ia bertahan karena kesabaran, rasa syukur, komunikasi yang baik, saling
menghormati, dan keyakinan bahwa setiap ujian adalah bagian dari proses
pendewasaan.
Kadang kita melihat rumah tangga orang lain tampak begitu
indah. Padahal bisa jadi mereka juga pernah melewati air mata yang tidak pernah
dipertontonkan kepada siapa pun. Kebahagiaan bukanlah rumah tangga yang tanpa
masalah, melainkan rumah tangga yang mampu menyelesaikan masalah tanpa
kehilangan rasa cinta dan hormat satu sama lain.
Maka, jika hari ini Allah SWT telah mempertemukan kita
dengan pasangan hidup, jangan terlalu sibuk membandingkan dengan kisah orang
lain. Jangan terus membayangkan "seandainya dulu menikah dengan si A atau
si B." Pikiran seperti itu hanya akan menggerogoti rasa syukur.
Terimalah kehidupan ini dengan lapang dada. Syukurilah
pasangan yang Allah titipkan kepada kita. Rawatlah dengan kasih sayang,
kesabaran, dan doa. Sebab sering kali, kebahagiaan bukan lahir karena kita
mendapatkan pasangan yang sempurna, melainkan karena kita belajar mencintai
dengan cara yang benar.
Baytî Jannatî—rumah
tanggaku adalah surgaku. Ungkapan ini bukan berarti rumah tangga selalu
dipenuhi tawa tanpa air mata, atau selalu lapang tanpa persoalan. Surga
bukanlah tempat yang bebas dari perjuangan, melainkan tempat yang menghadirkan
ketenangan. Rumah akan terasa seperti surga ketika suami dan istri saling
menjaga kehormatan, saling menguatkan saat lemah, saling memaafkan ketika
khilaf, dan sama-sama mengingat Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan. Kebahagiaan
rumah tangga bukan ditentukan oleh seberapa mewah rumah yang dimiliki, tetapi
oleh seberapa besar cinta, syukur, dan kesabaran yang hidup di dalamnya. Ketika
setiap anggota keluarga menjadikan ridha Allah SWT ebagai tujuan bersama, maka
rumah yang sederhana pun akan menghadirkan ketenteraman yang nilainya jauh
melebihi kemewahan dunia.
Pada akhirnya, jodoh adalah rahasia Allah SWT, tetapi
menjaga jodoh adalah amanah kita. Jika syukur menjadi pakaian dan sabar menjadi
pegangan, insya Allah rumah tangga akan tetap kokoh menghadapi segala musim
kehidupan. Karena yang membuat sebuah pernikahan bertahan bukan sekadar
bagaimana ia dimulai, melainkan bagaimana dua hati terus memilih untuk saling
setia hingga akhir usia.
Wallāhu al-Musta’ān
Ahmad Chuvav Ibriy
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota
Komisi Fatwa, Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM