Lebih kejam daripada binatang buas!
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Binatang buas membunuh untuk mempertahankan hidupnya. Tetapi manusia yang sudah kehilangan nurani bisa tega merampas hak hidup sesamanya demi memperkaya diri sendiri.
Petugas karhutla berjuang mempertaruhkan nyawa. Mereka berhadapan dengan api, asap, dan bahaya demi menyelamatkan lingkungan dan kehidupan orang lain. Namun, ironisnya, hak mereka sendiri justru belum dibayar.
Di tengah penderitaan itu, muncul kabar dugaan korupsi dana darurat bencana yang menyeret pejabat BNPB.
Sungguh, di mana letak kemanusiaan kita?
Dana bencana bukan uang biasa. Di dalamnya ada harapan korban yang kehilangan rumah, kebutuhan keluarga yang kelaparan, dan keselamatan mereka yang sedang berjuang di tengah bencana.
Mengembat dana semacam itu bukan sekadar persoalan melanggar hukum. Jika terbukti, itu adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
Lebih menyakitkan lagi, korupsi bisa terjadi ketika masyarakat sedang berjuang menyelamatkan hidupnya. Saat orang lain berjibaku memadamkan api, ada yang justru diduga sibuk memperkaya diri.
Jangan sampai kita begitu fasih berbicara tentang agama, tetapi kehilangan akhlak ketika berhadapan dengan uang.
Al-Qur'an dibaca, ayat-ayat tentang amanah dilantunkan, tetapi amanah jabatan justru dikhianati. Kita berbicara tentang surga, tetapi tega membuat orang lain menderita demi kenikmatan dunia yang sementara.
Bukankah Allah telah mengingatkan?
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
"Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil." (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat ini bukan sekadar untuk menghiasi mimbar dan memperindah ceramah. Ia adalah peringatan yang semestinya menggetarkan hati setiap orang yang diberi amanah mengelola uang rakyat.
Sebab, yang paling mengerikan bukanlah ketika manusia tidak mengenal ayat-ayat Allah, melainkan ketika ia mengenalnya, tetapi tidak lagi merasa takut melanggarnya.
Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan orang yang pandai berpidato tentang moral. Bahkan, tidak kekurangan orang yang fasih berbicara tentang agama.
Yang kita khawatirkan adalah semakin langkanya manusia yang masih memiliki rasa malu ketika mengkhianati amanah.
Jika dugaan korupsi itu terbukti, hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Jabatan tidak boleh menjadi tameng, pangkat tidak boleh menjadi pelindung, dan kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh menjadi jalan untuk lolos dari pertanggungjawaban.
Sebab, uang bencana bukan sekadar uang negara. Di dalamnya ada air mata, penderitaan, bahkan nyawa manusia.
Jangan sampai kita baru belajar menjadi manusia setelah kehilangan nurani.
Wallāhu al-Musta'ān
Gresik, 15 September 2026
Ahmad Chuvav Ibriy