MUKTAMAR KE-35: MENGAPA NU MEMERLUKAN SERAMBI PESANTREN YANG TEDUH?
23/06/2026
Admin Yayasan
Bagikan:
Oleh: Ahmad Chuvav Ibriy
Munas-Konbes NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso baru saja berlalu. Namun, berbagai dinamika yang terjadi di dalamnya menyisakan catatan penting bagi perjalanan jam'iyah. Perdebatan mengenai perubahan regulasi, ketegangan dalam sidang pleno, hingga munculnya kontroversi seputar mekanisme pengambilan keputusan menjadi pertanda bahwa suhu politik internal NU sedang tidak biasa.
Karena itu, perdebatan mengenai lokasi Muktamar ke-35 tidak boleh dipahami semata-mata sebagai persoalan fasilitas, akses transportasi, atau kemampuan teknis penyelenggaraan. Yang dipertaruhkan sesungguhnya adalah kemampuan tempat tersebut menghadirkan suasana batin yang mampu meredakan ketegangan, memulihkan kepercayaan, dan menjaga persatuan jam'iyah.
Munas Ploso memperlihatkan bahwa ketika suhu forum meningkat, adab dan tata kelola organisasi dapat sama-sama dipersoalkan. Ada yang mempertanyakan gaya komunikasi sebagian pengurus yang dinilai kurang mencerminkan tradisi takzim kepada para masyayikh. Ada pula yang mempertanyakan dinamika pengambilan keputusan yang memunculkan diskusi mengenai batas-batas otoritas dan mekanisme organisasi. Terlepas dari benar dan salahnya penilaian tersebut, satu hal yang sulit dibantah adalah bahwa NU membutuhkan ruang yang lebih kondusif bagi tumbuhnya kebijaksanaan.
Dalam sejarahnya, pesantren bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan benteng kultural yang mampu meredam pertarungan kepentingan. Aura para masyayikh, tradisi tirakat, dan adab kepesantrenan sering kali menjadi rem moral yang tidak tertulis, tetapi justru paling efektif menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.
Karena itu, Muktamar ke-35 membutuhkan rumah yang mampu menghadirkan kewibawaan moral tersebut. Tempat yang cukup dihormati oleh semua unsur, cukup teduh untuk menjadi ruang musyawarah, dan cukup kuat untuk menjadi jangkar ketika gelombang politik mulai meninggi.
Dalam konteks itulah, pilihan menggelar Muktamar di lingkungan pesantren besar yang memiliki legitimasi kultural kuat patut dipertimbangkan secara serius. Bukan karena pesantren harus berpihak kepada kelompok tertentu, melainkan karena NU sedang memerlukan ruang yang mampu mengembalikan semua pihak kepada kesadaran bahwa jabatan hanyalah sarana, sedangkan persatuan jam'iyah adalah tujuan yang jauh lebih besar.
Pasca dinamika Munas-Konbes Ploso, Muktamar ke-35 tidak hanya membutuhkan gedung dan infrastruktur. Ia membutuhkan suasana. Ia membutuhkan kewibawaan moral. Ia membutuhkan tempat yang mampu membuat semua orang kembali merasa sebagai santri.
Dan ketika organisasi sedang berada di persimpangan yang penuh ketegangan, sering kali pilihan terbaik bukanlah mendekat ke pusat-pusat kekuasaan, melainkan pulang ke serambi pesantren.
Sebab NU lahir dari pesantren, dibesarkan oleh pesantren, dan berkali-kali diselamatkan oleh kebijaksanaan para kiai pesantren.
Dalam situasi pasca dinamika Munas-Konbes yang menghangat, Pondok Pesantren Lirboyo jika menjadi salah satu pilihan tempat Muktamar ke-35 adalah langkah yang tepat dan proporsional. Lirboyo bukan hanya memiliki kapasitas fisik dan pengalaman sejarah sebagai tuan rumah berbagai forum besar, tetapi juga memiliki legitimasi kultural dan kewibawaan moral yang diakui luas oleh kalangan Nahdliyin. Kehadiran atmosfer pesantren yang kuat di Lirboyo dapat menjadi penyeimbang di tengah menguatnya dinamika organisasi, sekaligus menghadirkan ruang musyawarah yang lebih teduh, beradab, dan mengembalikan seluruh peserta pada spirit khidmah, bukan sekadar kontestasi.
Pada akhirnya, Muktamar bukanlah tentang siapa yang paling kuat, melainkan bagaimana rumah besar Nahdlatul Ulama tetap utuh dan teduh bagi seluruh warganya. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan, tetapi persaudaraan jam'iyyah harus selalu berada di atas segala kepentingan. Sebab para muassis telah mewariskan kepada kita bukan sekadar organisasi, melainkan adab, tawadlu', dan tradisi musyawarah yang dilandasi kasih sayang.
Maka, di tengah riak dan gelombang yang silih berganti, semoga Muktamar ke-35 benar-benar menjadi momentum kembali kepada hikmah para masyayikh; tempat di mana semua pihak datang bukan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling menguatkan. Sebab sebesar apa pun perbedaan, kita semua tetaplah santri-santri yang berteduh di bawah panji yang sama: Nahdlatul Ulama.
Bukankah para kiai telah mengajarkan bahwa rumah yang besar tidak akan roboh hanya karena perbedaan pendapat, selama penghuninya masih menjaga adab, saling menghormati, dan mendahulukan kemaslahatan jam'iyyah di atas kepentingan diri dan golongan. Semoga Allah Swt menjaga NU, para ulama, dan seluruh Nahdliyin dalam persaudaraan yang penuh keberkahan.
Wallāhu a'lam bi ash-shawāb.
Ahmad Chuvav Ibriy
Alumni Ponpes Lirboyo 1992
Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik
https://www.facebook.com/share/p/18x2b4MmG2/