Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy
Kalau melihat situasi internal NU yang sedang cukup tegang, pandangan seperti itu dapat dipahami. Ada beberapa alasan mengapa Pondok Pesantren Lirboyo dianggap lebih kondusif:
Atmosfer pesantren lebih menenangkan dibanding hotel atau kawasan yang terlalu dekat dengan pusat kekuasaan. Tradisi tabarrukan kepada para masyayikh dan kultur santri dapat menjadi rem bagi eskalasi konflik.
Lirboyo memiliki legitimasi kultural yang kuat. Pondok ini dihormati oleh berbagai kalangan NU, baik yang berbeda pilihan maupun yang berada di luar struktur resmi.
Menjaga Muktamar tetap berjiwa pesantren, sehingga orientasi musyawarah diharapkan lebih menonjol daripada manuver politik praktis.
Jawa Timur adalah jantung NU, dan Lirboyo merupakan salah satu simpul terbesar jaringan pesantren Nahdliyyin.
Namun, tentu ada yang mengkhawatirkan bahwa lokasi di Lirboyo dapat dianggap menguntungkan pihak tertentu. Kekhawatiran seperti itu juga wajar dalam dinamika organisasi besar. Karena itu, yang paling penting sesungguhnya bukan semata-mata lokasi, tetapi adanya komitmen semua pihak untuk menjaga adab, menerima hasil secara dewasa, dan menjadikan Muktamar sebagai sarana mencari maslahat jam'iyyah, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Kalau saya pribadi melihat, di tengah suhu yang memanas, pilihan lokasi di lingkungan pesantren seperti Lirboyo justru lebih mendekati ruh NU dibanding lokasi yang terlalu identik dengan birokrasi atau pusat kekuasaan. Sebab NU lahir, tumbuh, dan dibesarkan dari pesantren.
Gresik, 18 Juni 2026