Loading...
Takdir, Luka, dan Kesombongan Manusia
12/05/2026 Admin Yayasan Bagikan:

Refleksi QS al-Ḥadīd: 22–23 dalam Tafsir al-Qurṭubī

Oleh : Ahmad Chuvav Ibriy

Di antara penyakit terbesar manusia modern adalah kelelahan batin. Orang-orang hidup dalam kecemasan yang panjang: takut gagal, takut miskin, takut kehilangan, takut ditinggalkan, takut masa depan runtuh sebelum sempat dijalani. Di sisi lain, manusia juga mudah mabuk ketika memperoleh keberhasilan. Sedikit pujian membuat dada membesar, sedikit kekuasaan membuat dirinya merasa lebih tinggi daripada yang lain. Maka hidup manusia sering bergerak di antara dua kutub: putus asa ketika kehilangan, dan sombong ketika mendapatkan.

Dalam keadaan seperti itulah Al-Qur’an menghadirkan satu pelajaran agung melalui firman Allah Swt dalam Qur'sn Surah al-Ḥadīd ayat 22–23:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ۝ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kalian tidak terlalu bersedih atas apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu bergembira atas apa yang diberikan kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Dalam Tafsir al-Qurṭubī, ayat ini dijelaskan sebagai pondasi besar dalam memahami takdir dan mendidik jiwa manusia. Al-Qurṭubī menyebut berbagai bentuk musibah yang terjadi di bumi: paceklik, rusaknya tanaman, bencana alam, hilangnya hasil panen, hingga kesulitan hidup. Sedangkan musibah pada diri manusia mencakup penyakit, rasa sakit, kesempitan hidup, dan berbagai penderitaan batin.

Menariknya, Al-Qurṭubī tidak berhenti pada penjelasan makna lahiriah ayat. Ia membawa pembaca memasuki dimensi ruhani dari ayat tersebut: bahwa seluruh kejadian telah tertulis di Lauḥ al-Maḥfūẓ sebelum manusia diciptakan. Tidak ada luka yang terjadi secara kebetulan. Tidak ada kehilangan yang keluar dari pengetahuan Allah. Bahkan air mata manusia pun tidak jatuh di luar kehendak-Nya.

Inilah yang membuat Sa‘īd bin Jubair, sebagaimana dikisahkan Al-Qurṭubī, tetap tenang ketika ditangkap dan dibawa menuju kematian. Saat orang lain menangisinya, beliau berkata:

“Jangan menangis. Semua ini telah berada dalam ilmu Allah Swt .”

Kalimat itu bukan ucapan orang yang putus asa, tetapi ucapan seorang hamba yang telah berdamai dengan takdir. Ia tahu bahwa hidup tidak selalu harus dipahami dengan logika untung-rugi dunia. Ada saat di mana manusia hanya diminta percaya kepada Allah, walau tak mampu memahami seluruh rahasia-Nya.

Hari ini manusia sering merasa dirinya pengendali kehidupan. Teknologi membuat manusia merasa mampu mengatur segalanya. Tetapi satu penyakit kecil saja bisa melumpuhkan tubuh. Satu kabar duka bisa meruntuhkan ketenangan. Satu kehilangan dapat membuat manusia tidak mampu tidur berhari-hari. Di situlah manusia sadar bahwa dirinya sebenarnya rapuh.

Ayat ini hadir bukan untuk membuat manusia pasrah tanpa usaha, tetapi agar manusia tidak tenggelam dalam kepanikan. Sebab kepanikan lahir ketika manusia merasa dirinya pemilik mutlak kehidupan. Padahal manusia hanyalah musafir yang sedang berjalan di atas garis takdir Allah.

Al-Qurṭubī juga mengutip hadits Nabi Saw:

«ما أصابك لم يكن ليخطئك وما أخطأك لم يكن ليصيبك»

“Apa yang menimpamu tidak mungkin meleset darimu, dan apa yang luput darimu tidak mungkin akan menimpamu.”

Hadits ini bukan ajakan untuk bermalas-malasan. Justru ia mendidik manusia agar berusaha tanpa diperbudak hasil. Sebab sebagian manusia hancur bukan karena gagal, tetapi karena menganggap kegagalan sebagai akhir segalanya. Mereka kehilangan ketenangan karena menggantungkan hidup sepenuhnya pada dunia.

Karena itu Allah Swt melanjutkan:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ

“Agar kalian tidak terlalu bersedih atas apa yang luput dari kalian.”

Islam tidak melarang sedih. Bahkan Nabi Ya‘qub menangis hingga matanya memutih karena kehilangan Nabi Yusuf. Yang dilarang adalah kesedihan yang berubah menjadi keputusasaan, kemarahan kepada takdir, bahkan kebencian kepada kehidupan.

Sebagian orang kehilangan jabatan lalu merasa hidup selesai. Sebagian kehilangan harta lalu merasa harga dirinya hilang. Sebagian ditinggalkan orang yang dicintai lalu merasa dunia runtuh seluruhnya. Padahal dunia memang diciptakan tidak abadi.

Karena itu Ja‘far al-Ṣādiq berkata sebagaimana dikutip Al-Qurṭubī:

“Mengapa engkau bersedih atas sesuatu yang hilang padahal kesedihanmu tidak mampu mengembalikannya?”

Kalimat ini terasa sederhana, tetapi sangat dalam. Banyak penderitaan manusia ternyata bukan berasal dari kehilangan itu sendiri, melainkan dari ketidakmampuan menerima kenyataan.

Namun ayat ini tidak berhenti pada larangan berlebihan dalam kesedihan. Allah juga memperingatkan manusia agar tidak mabuk oleh keberhasilan:

وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Dan agar kalian tidak terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan kepada kalian.”

Inilah penyakit manusia yang lain: merasa dirinya hebat karena memiliki sesuatu. Harta membuatnya memandang rendah orang miskin. Jabatan membuatnya merasa paling benar. Gelar membuatnya sulit mendengar kritik. Bahkan ilmu agama kadang melahirkan kesombongan spiritual.

Karena itu ayat ditutup dengan kalimat yang sangat keras:

وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”

Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa mukhtāl adalah orang yang melihat dirinya dengan rasa bangga, sedangkan fakhūr adalah orang yang memandang orang lain dengan hina. Betapa banyak manusia yang tampak sederhana secara lahiriah tetapi diam-diam merasa dirinya lebih suci daripada orang lain. Kesombongan tidak selalu berbentuk pakaian mewah atau kendaraan mahal. Kadang ia bersembunyi dalam ceramah, status sosial, bahkan ibadah.

Karena itu para sufi memandang ayat ini sebagai pendidikan hati. Bahwa hidup harus dijalani dengan seimbang: sabar ketika kehilangan dan syukur ketika mendapatkan. Tidak hancur karena musibah, tidak mabuk karena nikmat.

Ibnu ‘Abbās Ra. berkata:

“Semua manusia pasti pernah sedih dan gembira. Tetapi orang mukmin menjadikan musibahnya sebagai kesabaran dan nikmatnya sebagai syukur.”

Inilah maqām yang mulai hilang dari manusia modern: ketenangan ruhani. Orang terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa belajar menerima kenyataan hidup. Padahal tidak semua yang kita inginkan akan menjadi milik kita, dan tidak semua yang kita miliki akan tinggal selamanya bersama kita.

Dunia hanya tempat singgah. Apa yang datang akan pergi. Apa yang tumbuh akan layu. Apa yang hidup akan mati. Maka orang yang paling bijak bukanlah yang berhasil mengumpulkan dunia sebanyak-banyaknya, tetapi yang mampu menjaga hatinya tetap dekat kepada Allah di tengah perubahan dunia yang terus bergerak.

QS al-Ḥadīd ayat 22–23 mengajarkan bahwa ketenangan bukan lahir karena hidup tanpa masalah, tetapi karena hati percaya bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah Swt. Dan ketika keyakinan itu tumbuh, manusia tidak lagi mudah runtuh oleh kehilangan dan tidak lagi mabuk oleh keberhasilan.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb 


Gresik, 12 Mei 2026

Ahmad Chuvav Ibriy 

Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojowuku Kedamean Gresik; Anggota Komisi Fatwa,Hukum dan Pengkajian MUI Kabupaten Gresik JATIM